ANALISIS PROSES BISNIS DAN KEBUTUHAN SISTEM INFORMASI RENDAL PRODUKSI
DI INDUSTRI FARMASI: STUDI KASUS PT. TNF
Anggota:
1. Dicky Rohman (52412072)
2. M. Ilhamsyahrito (54412716)
3. Rendy Matheas (56412121)
4. Septiana Praditama (56412934)
Kelas 4IA17
Keberhasilan era manufaktur modern tidak lepas dari peranan sistem
informasi/teknologi informasi dari suatu program peningkatan
efisiensi, keefektifan sampai menciptakan inovasi baru untuk mencapai
keunggulan bersaing. Industri farmasi tak luput dari pola keberhasilan seperti
ini. PT. TNF merupakan salah satu industri farmasi yang berorientasi pada
pasar, dengan menciptakan produk-produk yang makin kompleks, sesuai dengan
keinginan pasar.
Sebagai
salah satu industri bisnis ini
membutuhkan alat bantu agar proses bisnisnya mengalami perkembangan yang
signifikan terhadap pencapaian tujuan organisasi. Salah satu peranan vital
dalam bisnis industri ini proses Unit Produksi dan PPIC sebagai pengendalian
perencanaan produksi serta pengadaan sebagai pengelola lalu lintas material dan
barang jadi/produk. Pengembangan model sistem cerdas dalam sistem
informasi manufaktur salah satunya multi-agent system (MAS). MAS merupakan kumpulan sistem informasi
berbasis agent yang memungkinkan user dapat mendelegasikan
tugas kepadanya secara mandiri.
Dalam melakukan proses Rencana dan pengendalian Produksi dalam industri
manufaktur tak terlepas dari sistem corporate yang terbentuk
di dalam sistem tersebut.
Analisa dan perancangan berorientasi objek adalah pendekatan perancangan
(khususnya untuk sistem informasi) dengan memandang sistem terdiri atas
objek-objek. Keunggulan utama dari pendekatan ini adalah objek perangkat lunak
yang dirancang bisa digunakan secara berulang atau dimodifikasi sesuai
kebutuhan sehingga proses perancangan ulang atau perawatan sistem lebih mudah.
Secara umum
ada dua langkah untuk membuat model objek yaitu menemukan serta
mengidentifikasi objek bisnis dan mengorganisasikan objek dan
mengidentifikasi hubungan antar objek.
Konsep
agent memiliki dua tahap metode yaitu analisis dan desain.
Tahap ini terdiri
dari langkah-langkah:
1). Tahap Analisis
1. Identifikasi Peran
2. Penyusunan Model Intraksi
2). Tahap Desain
3. Perancangan Model Agent
4. Menentukan Layanan (Service)
5. Mengembangkan Model Acquaintance
1. Perencanaan Sistem
Langkah
pertama dalam melakukan perancangan sistem informasi adalah planning (perencanaan), adalah tahapan awal
suatu proses yang melandasi pemahaman tentang mengapa sistem informasi ini
dibuat. Proses tahapan awal ini dimulai dari proses mengidentifikasi business value (manfaat bisnis) untuk memahami sejauh
mana manfaat digunakannya sistem bagi perusahaan khususnya pada PT TNF.
Setelah
mengidentifikasi kebutuhan bisnis, maka dilanjutkan dengan membuat analisis feasibility untuk memberikan lebih jauh pemahaman
akan peluang dan resiko pembuatan proyek ini terhadap kelangsungan bisnis
perusahaan. Dalam tahapan ini dirangkum menjadi 3 aspek umum, yaitu: technical feasibility, economical
feasibility dan organizational feasibility.
2. Analisis Kebutuhan
Dalam
menganalisis sistem yang sedang berjalan di PT. TNF, dilakukan pengkajian
mengenai analisis kebutuhan yang ada pada sistem pembangun produksi, kemudian
memodelkan hasil analisis sistem ke dalam model fungsional dengan use case, kemudian model
struktural dan dinamis yang dikembangkan dengan agent sehingga memudahkan perancangan
sistem.
Berdasarkan
justifikasi awal mengenai mengapa sistem informasi ini dibuat, maka dapat
dirumuskan beberapa kebutuhan yang harus ada pada sistem yang baru adalah
sebagai berikut: Kebutuhan sistem dalam basis teknologi mesin/alat, Kebutuhan
sistem dalam organisasi produksi dan Kebutuhan sistem dalam teknik manajemen
produksi
Kemudian
membuat model fungsional dari proses bisnis, bertujuan untuk memahami kebutuhan
dan perilaku sistem informasi baik itu yang telah ada sebelumnya maupun yang
akan dibuat. Proses pengecekan material dilakukan oleh Staf Perencanaan
Produksi secara fisik dengan langsung mendata persediaan barang di gudang, dan
juga mengecek di database gudang.
Pengecekan
ganda ini merupakan salah satu kebijakan dari manajer PPIC, karena walaupun
sistem database yang terkomputerisasi masih ada kekhawatiran ada staf yang lupa
memasukkan data setelah terjadinya transaksi obat, baik input/output, dan juga
kebijakan ini adalah untuk prosedur pengamanan, sehingga jika ada data yang
tidak sesuai, maka dapat langsung diganti. Hal ini disebabkan karena pada akhir
bulan, pembuatan laporan inventori didasarkan pada data yang ada di database.
3. Pemodelan Sistem yang Baru
Pada
sistem yang baru ini, terjadi beberapa penyederhanaan fungsi kerja akibat
otomatisasi oleh sistem informasi. Hal ini menyebabkan peran/aktor yang
terlibat mengalami penyederhanaan dari yang berjumlah lima peran menjadi tiga
peran.
Diharapkan
pada sistem yang baru kelak hanya tiga peran dominan yang terlibat yaitu Staf
PPIC, Staf Produksi dan Manajer Produksi. Untuk itu dibuat model use case dari sistem yang baru agar memberi
pemahaman bagi stakeholder mengenai kemampuan sistem dalam
berinteraksi dengan lingkungannya.
Sumber
referensi: JURNAL TEKNIK INFORMATIKA ANALISIS PROSES BISNIS DAN KEBUTUHAN
SISTEM INFORMASI RENDAL PRODUKSI DI INDUSTRI FARMASI: STUDI KASUS PT. TNF