Sabtu, 17 Oktober 2015

Review Jurnal Pengantar Bisnis Informatika

ANALISIS PROSES BISNIS DAN KEBUTUHAN SISTEM INFORMASI RENDAL PRODUKSI
DI INDUSTRI FARMASI: STUDI KASUS PT. TNF

Anggota:
1. Dicky Rohman (52412072)
2. M. Ilhamsyahrito (54412716)
3. Rendy Matheas (56412121)
4. Septiana Praditama (56412934)
Kelas 4IA17

   Keberhasilan era manufaktur modern tidak lepas dari peranan sistem informasi/teknologi informasi dari suatu program peningkatan efisiensi, keefektifan sampai menciptakan inovasi baru untuk mencapai keunggulan bersaing. Industri farmasi tak luput dari pola keberhasilan seperti ini. PT. TNF merupakan salah satu industri farmasi yang berorientasi pada pasar, dengan menciptakan produk-produk yang makin kompleks, sesuai dengan keinginan pasar.
     Sebagai salah satu industri bisnis  ini membutuhkan alat bantu agar proses bisnisnya mengalami perkembangan yang signifikan terhadap pencapaian tujuan organisasi. Salah satu peranan vital dalam bisnis industri ini proses Unit Produksi dan PPIC sebagai pengendalian perencanaan produksi serta pengadaan sebagai pengelola lalu lintas material dan barang jadi/produk. Pengembangan model sistem cerdas dalam sistem informasi manufaktur salah satunya multi-agent system (MAS). MAS merupakan kumpulan sistem informasi berbasis agent yang memungkinkan user dapat mendelegasikan tugas kepadanya secara mandiri.
Dalam melakukan proses Rencana dan pengendalian Produksi dalam industri manufaktur tak terlepas dari sistem corporate yang terbentuk di dalam sistem tersebut. 
Analisa dan perancangan berorientasi objek adalah pendekatan perancangan (khususnya untuk sistem informasi) dengan memandang sistem terdiri atas objek-objek. Keunggulan utama dari pendekatan ini adalah objek perangkat lunak yang dirancang bisa digunakan secara berulang atau dimodifikasi sesuai kebutuhan sehingga proses perancangan ulang atau perawatan sistem lebih mudah. 
Secara umum ada dua langkah untuk membuat model objek yaitu menemukan serta mengidentifikasi objek bisnis  dan mengorganisasikan objek dan mengidentifikasi hubungan antar objek.
Konsep agent memiliki dua tahap metode yaitu analisis dan desain.
Tahap ini terdiri dari langkah-langkah:
1). Tahap Analisis
   1. Identifikasi Peran
   2. Penyusunan Model Intraksi
2). Tahap Desain
3.  Perancangan Model Agent
4.  Menentukan Layanan  (Service)
  5. Mengembangkan Model Acquaintance

1. Perencanaan Sistem

Langkah pertama dalam melakukan perancangan sistem informasi adalah planning (perencanaan), adalah tahapan awal suatu proses yang melandasi pemahaman tentang mengapa sistem informasi ini dibuat. Proses tahapan awal ini dimulai dari proses mengidentifikasi business value (manfaat bisnis) untuk memahami sejauh mana manfaat digunakannya sistem bagi perusahaan khususnya pada PT TNF.
Setelah mengidentifikasi kebutuhan bisnis, maka dilanjutkan dengan membuat analisis feasibility untuk memberikan lebih jauh pemahaman akan peluang dan resiko pembuatan proyek ini terhadap kelangsungan bisnis perusahaan. Dalam tahapan ini dirangkum menjadi 3 aspek umum, yaitu: technical feasibility, economical feasibility dan organizational feasibility.

2. Analisis Kebutuhan

Dalam menganalisis sistem yang sedang berjalan di PT. TNF, dilakukan pengkajian mengenai analisis kebutuhan yang ada pada sistem pembangun produksi, kemudian memodelkan hasil analisis sistem ke dalam model fungsional dengan use case, kemudian model struktural dan dinamis yang dikembangkan dengan agent sehingga memudahkan perancangan sistem.
Berdasarkan justifikasi awal mengenai mengapa sistem informasi ini dibuat, maka dapat dirumuskan beberapa kebutuhan yang harus ada pada sistem yang baru adalah sebagai berikut: Kebutuhan sistem dalam basis teknologi mesin/alat, Kebutuhan sistem dalam organisasi produksi dan Kebutuhan sistem dalam teknik manajemen produksi
Kemudian membuat model fungsional dari proses bisnis, bertujuan untuk memahami kebutuhan dan perilaku sistem informasi baik itu yang telah ada sebelumnya maupun yang akan dibuat. Proses pengecekan material dilakukan oleh Staf Perencanaan Produksi secara fisik dengan langsung mendata persediaan barang di gudang, dan juga mengecek di database gudang.
Pengecekan ganda ini merupakan salah satu kebijakan dari manajer PPIC, karena walaupun sistem database yang terkomputerisasi masih ada kekhawatiran ada staf yang lupa memasukkan data setelah terjadinya transaksi obat, baik input/output, dan juga kebijakan ini adalah untuk prosedur pengamanan, sehingga jika ada data yang tidak sesuai, maka dapat langsung diganti. Hal ini disebabkan karena pada akhir bulan, pembuatan laporan inventori didasarkan pada data yang ada di database.

 3. Pemodelan Sistem yang Baru

Pada sistem yang baru ini, terjadi beberapa penyederhanaan fungsi kerja akibat otomatisasi oleh sistem informasi. Hal ini menyebabkan peran/aktor yang terlibat mengalami penyederhanaan dari yang berjumlah lima peran menjadi tiga peran.
Diharapkan pada sistem yang baru kelak hanya tiga peran dominan yang terlibat yaitu Staf PPIC, Staf Produksi dan Manajer Produksi. Untuk itu dibuat model use case dari sistem yang baru agar memberi pemahaman bagi stakeholder mengenai kemampuan sistem dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Sumber referensi: JURNAL TEKNIK INFORMATIKA ANALISIS PROSES BISNIS DAN KEBUTUHAN SISTEM INFORMASI RENDAL PRODUKSI DI INDUSTRI FARMASI: STUDI KASUS PT. TNF


Tidak ada komentar:

Posting Komentar